Konsep kota mandiri memiliki banyak versi, dilihat dari arah pengembangannya ada yang tetap di dalam kota, tetapi ada juga yang mengarah ke pinggiran kota dan luar kota. Dari segi letak dan posisinya, misalnya kota pesisir, kota di tengah ladang, kota pegunungan, dan bisa juga dilihat dari segi ukuran, kota besar, kota besar, kota sedang, dan kota kecil di luar negeri memiliki beberapa kategori, yaitu mega-city, metropolis, big city, town, big city and towns.

Konsep Kota Mandiri

Terlepas dari versi dan model perkotaan, kota-kota umumnya tidak homogen dalam struktur spasial, pusat kota memiliki tingkat kepadatan yang lebih tinggi daripada yang terletak di daerah non-perkotaan. Padatnya aktivitas di pusat-pusat kota menimbulkan ketidakefektifan dan ketidakefisienan. Oleh karena itu, upaya harus dilakukan untuk memperluasnya ke pusat-pusat konsentari yang lebih kecil di dekatnya. Pusat-pusat konsentrasi penduduk dan kegiatan-kegiatan kecil tersebar di beberapa tempat sehingga dapat berkembang sebagai kota mandiri.

Memang, perkembangan kota terpadu yang mandiri telah menyebar luas dalam beberapa tahun terakhir. Konsep ini dinilai dapat menghadirkan banyak keuntungan, yakni mempertemukan para pemilik rumah dengan pusat kegiatan ekonomi dan komersial, serta solusi bagi pemerataan pembangunan ekonomi. Fenomena perkembangan kota mandiri yang tidak terkendali tidak hanya dialami di Indonesia, banyak negara lain telah membangun kota mandiri dengan konsep yang unik bahkan dengan nilai investasi yang sangat tinggi.

Konsep Kota Mandiri di Luar Negeri

Kota mandiri kurang lebih merupakan hub yang memiliki fungsi pembangunan seperti perumahan, utilitas, pusat pelayanan dan perdagangan, serta kegiatan manufaktur, yang seharusnya mampu menyerap sebagian besar dari pertumbuhan urbanisasi dan berbagai aktivitas perkotaan yang cenderung meningkat pesat, yang jika masih terjadi akan selalu mengarah ke pusat sebagai kota utama. Beban kepadatan tinggi di pusat kota utama harus dikurangi dan didistribusikan ke kota-kota mandiri di sekitar pusat kota utama.

Distrik Bisnis Internasional Songdo, proyek kota mandiri terbesar di Korea Selatan, adalah contoh pengembangan kota mandiri. Kota pintar ini dibangun di atas lahan seluas 1.500 hektar, di mana 600 hektar di antaranya dibangun di atas lahan reklamasi. Proyek ambisius ini, yang disebut sebagai pengembangan real estat swasta terbesar dalam sejarah, telah membangun berbagai proyek real estat, seperti 80.000 apartemen, 5 juta meter persegi kantor, dan 900.000 meter persegi tempat komersial. Ini belum termasuk fasilitas rumah sakit bertaraf internasional, hotel dan universitas yang saat ini terdaftar hingga 5 buah yaitu Chadwick International, George Mason University Korea, Ghent University Global Campus, State University of New York Korea dan The University of Utah Asia Campus.

Tidak hanya itu, kota mandiri ini juga dibangun dengan konsep green living dimana lebih dari 40 persen lahan kota dialokasikan untuk ruang terbuka hijau. Bahkan, kota ini juga dianggap sebagai salah satu kota pintar di dunia karena menerapkan teknologi canggih untuk mempermudah kehidupan masyarakat. Lihat saja cara mereka menangani masalah sampah, mereka menggunakan sistem vakum yang langsung menyedot sampah dari tempat pembuangan sampah dan mengirimkannya melalui serangkaian pipa bawah tanah ke fasilitas daur ulang. Ide cerdas lain yang digunakan kota ini adalah penggunaan jaringan informasi yang menghubungkan setiap perangkat, layanan, dan komponen melalui teknologi nirkabel sehingga memungkinkan seluruh kota untuk dikoordinasikan dan disinkronkan.

Kenyamanan di Kota Mandiri

Hidup di kota mandiri memiliki kenyamanan tersendiri. Kota mandiri memiliki fasilitas yang memadai karena akses dari satu titik ke titik lainnya cukup dekat dan bisa ditempuh dalam waktu singkat walau umumnya hanya memiliki luas ribuan hektar. Kehadiran kawasan perkotaan yang mandiri merupakan solusi dari permasalahan kepadatan yang muncul di kota-kota metropolitan karena kota mandiri umumnya dibangun di sekitar kota utama. Lebih lanjut, menurut temuan tim ahli geografi perkotaan dari McGill University di Montreal, pengembangan kota mandiri di suatu negara merupakan bagian dari program pembangunan industri dan infrastruktur nasional. Langkah ini dinilai efektif dalam meningkatkan pertumbuhan karena dapat menarik investor, menciptakan lapangan kerja, dan mengembangkan industri baru yang dapat mendiversifikasi perekonomian.

Dari segi akses, kota mandiri telah didukung oleh infrastruktur dan layanan transportasi, sehingga memudahkan masyarakat untuk mencapai pusat kota ketika ada urusan. Sebagai contoh, kota-kota mandiri di wilayah Jabodetabek telah didukung oleh moda transportasi massal, seperti light rail transit (LRT), Transjakarta, dan KRL Commuter Line. Kawasan ini juga memiliki akses jalan tol. Tidak hanya fasilitas dan akses yang mudah, yang menarik dari kota mandiri adalah harga huniannya yang biasanya lebih murah daripada di pusat kota. Bahkan, harga tanah juga relatif rendah dan ketersediaannya tetap tinggi. Semua itu dapat ditemukan di Grand Wisata Bekasi, sebuah kota mandiri yang terletak di wilayah Bekasi, di provinsi Jawa Barat.